Kamis, 04 Februari 2016

Buat kamu

Ketika aku mencoba menjadi yang terbaik, tetapi aku tidak berhasil
Ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan, tetapi tidak apa yang aku butuhkan
Ketika aku merasa sangat lelah, tetapi aku tidak bisa tidur
Terjebak oleh kenangan itu
Dan air mata jatuh mengalir di wajahku
Ketika aku kehilangan sesuatu yang tidak bisa seorangpun menggantikannya
Ketika aku mencintai seseorang, tetapi terbuang seperti sampah
Mungkinkah lebih buruk?
Saat aku terlalu sayang dan harus membiarkannya pergi begitu saja
Kamu tahu?ini sakit sekali

Senin, 01 Februari 2016

BIRU

Namanya Biru, anugerah terindah yang tiba-tiba saja dikirimkan Tuhan untuk menitipkan beberapa pelajaran. Pelajaran tentang kedewasaan, kehendak, juga perbedaan.

Biru harus tahu, jika aku tidak pernah merencanakan hati ini untuk jatuh padanya. Sungguh, niat saja tidak pernah terpikir sama sekali pada awalnya. Semua berubah begitu saja, niatan yang tadinya sama sekali tidak ada menjelma menjadi ketakutan terbesar bila harus kehilangannya.

Kami berbeda, sangat berbeda. Aku berpikir kiri, dia berpikir kanan. Dia percaya bila perbedaan akan selalu menjadi pertentangan, aku tidak. Aku selalu percaya bila perbedaan bisa menjadi alat untuk mempersatukan, tetapi dia tidak.

Tuhan, aku ingin dia. Aku mau Kau kirim dia bukan sekedar menitipkan pelajaran, pun menitipkan hatinya untuk bisa aku sayangi sepenuh hati.

Kami berbicara, matanya terlihat sedang berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata. "Kamu harus dapatkan yang terbaik dan aku bukan yang terbaik. Lupakan aku, karena kamu pun tahu jika kita memang diharuskan untuk saling melupakan. Kita jauh berbeda, Langit. Kamu hitam, aku putih, pun sebaliknya. Kalaupun dipaksa bersatu, kamu tahu akan menjadi warna apa. Abu-abu, Langit. Semuanya akan menjadi percuma."

Aku raih kedua tangannya, berharap ia mau mendengar dan duduk sebentar. "Aku yakin tidak ada yang percuma, Biru. Biru ingin bertahan karena aku tahu kamu yang terbaik, kita harus mencoba untuk saling bertahan. Aku mohon."

"Tidak, kamu salah. Kita tidak boleh mencobanya sama sekali, karena semuanya akan semakin menjadi tambah percuma. Aku menyayangimu, aku tidak mau masing-masing dari kita semakin sakit. Langit, kehendak Tuhan memang tidak bisa dilawan. Kamu harus mencari warna yang lain, aku bukan warna yang akan melengkapi pelangimu. Aku haya abu-abu." Ia melepas genggaman tangannya dari genggamanku, kemudian matanya menangis deras.

Aku menduduk lemas, menangis, tidak sanggup bersuara keras. "Kamu tahu aku hancur?"

"Kamu tahu aku pun begitu?"

Ia beranjak pergi, meninggalkan aku tanpa perpisahan apa-apa.

Dia tidak mengerti atau aku yang tidak mau mengerti? Senyumannya adalah pengharapan, matanya adalah kejujuran, dia adalah satu yang mustahil untuk direlakan.

Perasaan ini semakin tidak karuan. Hati dan otak kian berdebat hebat. Disatu sisi aku harus merelakannya, namun ada sisi lain yang lebih besar yang mengatakan bila aku harus terus bertahan.

Namun, akhirnya aku berpikir murni dan berujung pada kesimpulan dimana ada beberapa tujuan yang tidak bisa memiliki jalan yang searah. Ada perasaan yang tidak bisa dilalui dari arah yang berbeda.
Mungkin dia benar, ini yang terbaik. Biarkan saja perasaan ini ada dan pernah ada, biarkan dia menjadi bingkai pelajaran yang paling berharga.

Rabu, 30 Desember 2015

Apa yang membuat lo bahagia?

hm yang membuat gue bahagia...yang buat gue bahagia ituuu kalo gue bisa jadi bermanfaat buat hidup orang lain, bisa menghibur orang lain dan cuman kadang gue sering kaya mikir "orang yang gue sayang itu 100% buat kebahagiaan gue"
tapi 
tapi 
tapi 
kadang ngga juga. gue kira kalo gue udah banyak duit banyak uang gue bahagia, ternyata engga. gue kira kalo gue punya motor punya mobil gue bahagia, ternyata kadang engga juga karna tiba-tiba bisa aja mogok atau apa atau bisa-bisa kecelakaan dijalan(ini amit-amit jangan sampe sih), gue kira kalo gue udah sama orang yang gue sayang gue bakalan bahagia selamanya, ternyata engga juga kadang suka ada bete-beteannya gitu gitu. gue kira keluarga yang baik bahagia, tapi ternyata ada juga masalah-masalahnya. jadi hidup ini tuh kalo gaada masalah dan mulus-mulus aja itu gaasik kaya gaada tantangannya gitu ya ga si? terus jadi apa itu bahagia? gue jadi sering kaya nanya sama diri gue sendiri apasih itu bahagia?
kalo buat gue kebahagiaan itu adalah sebenernya state of mind kita, pilihan kita. kita yang memutuskan apakah kita mau bahagia atau engga. karena gaada orang yang bisa pencet tombol bahagia gitu aja jadi kita yang harus mengaktifkan tombol itu dalam diri kita. jadi kebahagiaan itu kalo buat gue adalah pilihan kita, kalo hari ini mau bahagia atau lo hari ini mau ga bahagia. ya itu keputusan kita sendiri. kalo gue hari ini, esok, dan seterusnya memutuskan untuk ba-ha-gia.
sebab kenapa gue mau bahagia terus?karna sekarang gue disini masih bisa nafas masih bisa hidup masih bisa melihat orang-orang yang gue sayangi, karna dengan bahagia gue bisa bersyukur sama yang allah swt kasih buat gue sekarang. karna itu, state of mind gue sekarang.


antya :)