Jumat, 29 April 2016

Tolong Buat Aku Lupa

Jelaskan padaku mengapa semua terjadi serumit ini.
Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku.
Hingga memenuhi relung-relung hatiku.
Semua terjadi begitu cepat tanpa teori.
Dan banyak basa basi.
Aku melihatmu, mengenalmu lalu mencintaimu.
Sesederhana itukah kamu mulai menguasai hari-hari ku.
Kamu jadi penyebab rasa semangatku
Kamu menjelma menjadi senyuman yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Iya, mungkin aku jatuh cinta.
Entah kamu, semua kulakukan diam-diam.
Begitu rapi hingga hatimu yang beku tidak pernah berhasil mencair.
Semua kusembunyikan.
Hingga perasaanmu yang tidak pernah peka tetap saja tidak peduli pada gerak-gerikku yang jarang tertangkap oleh sorot matamu.
Aku pandai menyembunyikan banyak hal.
Hingga kau tak memahami yang sebenarnya terjadi.
Aku tak bisa melupakanmu, sungguh.
Aku takkan pernah bisa lupa saat-saat masih bersamamu.
Hal-hal sederhana itu seakan-akan sengaja diciptakan untuk tidak dilupakan.
Tolong buat aku lupa.
Karna aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.
Kita jarang punya kesempatan bicara.
Maksudku, berdua saja.
Rasanya mustahil, kamu dan aku berbeda.
Air dan api, dingin dan panas.
Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu.
Kamu sangat sulit ku tebak.
Kamu teka-teki yang punya banyak jawaban juga banyak tafsiran.
Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kau tujukan padaku.
Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang mungkin saja tak hanya kau katakan untukku.
Aku takut mempercayai perhatian sederhanamu yang kau perlihatkan secara tersumbu.
Semakin takut jika perasaan ini bertumbuh ke arah yang tidak ku inginkan.
Tolong hentikan langkahku jika memang segalanya yang ku duga benar-benar hal yang salah dimatamu.
Tolong kembalikan aku ke jalanku sebelum aku mengganggu rute tujuanmu.
Ketahuilah, aku sedang berusaha melawan kamu yang mulai mengepul di otakku seperti asap rokok yang menggantung diudara.
Kamu seakan-akan terlihat nyata.



(A)

Kamis, 04 Februari 2016

Buat kamu

Ketika aku mencoba menjadi yang terbaik, tetapi aku tidak berhasil
Ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan, tetapi tidak apa yang aku butuhkan
Ketika aku merasa sangat lelah, tetapi aku tidak bisa tidur
Terjebak oleh kenangan itu
Dan air mata jatuh mengalir di wajahku
Ketika aku kehilangan sesuatu yang tidak bisa seorangpun menggantikannya
Ketika aku mencintai seseorang, tetapi terbuang seperti sampah
Mungkinkah lebih buruk?
Saat aku terlalu sayang dan harus membiarkannya pergi begitu saja
Kamu tahu?ini sakit sekali

Senin, 01 Februari 2016

BIRU

Namanya Biru, anugerah terindah yang tiba-tiba saja dikirimkan Tuhan untuk menitipkan beberapa pelajaran. Pelajaran tentang kedewasaan, kehendak, juga perbedaan.

Biru harus tahu, jika aku tidak pernah merencanakan hati ini untuk jatuh padanya. Sungguh, niat saja tidak pernah terpikir sama sekali pada awalnya. Semua berubah begitu saja, niatan yang tadinya sama sekali tidak ada menjelma menjadi ketakutan terbesar bila harus kehilangannya.

Kami berbeda, sangat berbeda. Aku berpikir kiri, dia berpikir kanan. Dia percaya bila perbedaan akan selalu menjadi pertentangan, aku tidak. Aku selalu percaya bila perbedaan bisa menjadi alat untuk mempersatukan, tetapi dia tidak.

Tuhan, aku ingin dia. Aku mau Kau kirim dia bukan sekedar menitipkan pelajaran, pun menitipkan hatinya untuk bisa aku sayangi sepenuh hati.

Kami berbicara, matanya terlihat sedang berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata. "Kamu harus dapatkan yang terbaik dan aku bukan yang terbaik. Lupakan aku, karena kamu pun tahu jika kita memang diharuskan untuk saling melupakan. Kita jauh berbeda, Langit. Kamu hitam, aku putih, pun sebaliknya. Kalaupun dipaksa bersatu, kamu tahu akan menjadi warna apa. Abu-abu, Langit. Semuanya akan menjadi percuma."

Aku raih kedua tangannya, berharap ia mau mendengar dan duduk sebentar. "Aku yakin tidak ada yang percuma, Biru. Biru ingin bertahan karena aku tahu kamu yang terbaik, kita harus mencoba untuk saling bertahan. Aku mohon."

"Tidak, kamu salah. Kita tidak boleh mencobanya sama sekali, karena semuanya akan semakin menjadi tambah percuma. Aku menyayangimu, aku tidak mau masing-masing dari kita semakin sakit. Langit, kehendak Tuhan memang tidak bisa dilawan. Kamu harus mencari warna yang lain, aku bukan warna yang akan melengkapi pelangimu. Aku haya abu-abu." Ia melepas genggaman tangannya dari genggamanku, kemudian matanya menangis deras.

Aku menduduk lemas, menangis, tidak sanggup bersuara keras. "Kamu tahu aku hancur?"

"Kamu tahu aku pun begitu?"

Ia beranjak pergi, meninggalkan aku tanpa perpisahan apa-apa.

Dia tidak mengerti atau aku yang tidak mau mengerti? Senyumannya adalah pengharapan, matanya adalah kejujuran, dia adalah satu yang mustahil untuk direlakan.

Perasaan ini semakin tidak karuan. Hati dan otak kian berdebat hebat. Disatu sisi aku harus merelakannya, namun ada sisi lain yang lebih besar yang mengatakan bila aku harus terus bertahan.

Namun, akhirnya aku berpikir murni dan berujung pada kesimpulan dimana ada beberapa tujuan yang tidak bisa memiliki jalan yang searah. Ada perasaan yang tidak bisa dilalui dari arah yang berbeda.
Mungkin dia benar, ini yang terbaik. Biarkan saja perasaan ini ada dan pernah ada, biarkan dia menjadi bingkai pelajaran yang paling berharga.